TEKNOLOGI PENGOLAHAN TANAMAN HERBAL

  


TEKNOLOGI PENGOLAHAN TANAMAN HERBAL LENGKUAS (Alpinia galanga)

DAN DAUN JAMBU BIJI (Psidium  guajava  L.)

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya alamnya, hal ini membuat negara Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil sumber daya alam yang melimpah. Masyarakat Indonesia banyak memanfaatkan sumber daya alam tersebut dengan menjadikannya sebagai obat tradisional. Sumber daya alam yang dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang. Disamping sumber daya alam yang melimpah, pemanfaatan sumber daya alam sebagai obat tradisonal ini juga disebabkan karena memiliki efek samping yang bagus terhadap penyembuhan penyakit. Salah satu obat tradisional yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah rimpang lengkuas sebagai obat diare (anti diare).

Diare merupakan salah satu penyakit yang dialami oleh manusia Karena adanya ketergangguan pencernaan didalam tubuh manusia. Salah satu penyebab diare ini akibat pola makan yang tidak bagus dan ketergantungan terhadap makanan yang tidak sehat. Biasanya orang yang mengalami diare akan merasakan dehidrasi atau kekurangan cairan yang mengakibatkan penderita diare merasa lesu dan tidak memiliki semangat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Dan hal ini sudah dibuktikan bahwa setiap penderita diare akan merasakan dehidrasi ataupun kekurangan cairan. Sehingga penyakit diare ini harus secepatnya ditangani agar penderita diare tidak mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan (Adawiyah, 2019). Tanaman obat anti diare antara lain yaitu lengkuas, daun jambu biji, dll.

Proses pasca panen tanaman obat terdapat beberapa tahapan yaitu sortasi basah dilakukan pemisahan kotoran dan/atau bahan asing yang terdapat pada tanaman seperti tanah, kerikil, rumput, gulma dan bagian tanaman yang tidak diinginkan (bahan yang busuk/kering atau bahan yang muda dan yang tua) serta untuk mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam hasil panen. Pencucian dilakukan dengan air bersih (standar air minum) yang mengalir agar kotoran yang terlepas tidak menempel kembali. Kotoran yang menempel kuat atau pada bagian yang susah dibersihkan dapat dihilangkan dengan penyemprotan air bertekanan tinggi. Kemudian dilanjutkan pada penirisan, bahan ditempatkan pada keranjang berlubang selanjutnya dipindahkan pada rak-rak peniris. Pengubahan bentuk, berbagai jenis bahan baku simplisia seringkali harus diubah menjadi bentuk lain seperti irisan, potongan, serutan dan lain-lain, untuk mempermudah proses selanjutnya (pengeringan, penggilingan, pengemasan, dan penyimpanan), memperbaiki tampilan fisik dan memenuhi standar kualitas (utamanya keseragaman ukuran, serta membuat produk lebih praktis dan lebih tahan lama selama dalam penyimpanan. Pengeringan adalah proses yang sangat krusial karena umumnya produk tanaman obat disimpan dalam jangka waktu yang lama ataupun diperdagangkan dalam bentuk kering. Pengeringan merupakan cara yang cepat dan tidak rumit untuk mempertahankan kualitas produk tanaman obat, namun demikian biaya dapat mencapai 50 % dari total biaya produksi, pengeringan dilakukan secara alamiah [diangin-anginkan (PAA) di tempat teduh ataupun PSM] dan secara buatan menggunakan alat dengan memanfaatkan energi panas, listrik atau api. Pengeringan secara mekanik meliputi: freeze drying (sublimasi/liopilisasi/pengeringan beku [PB]), artificial drying, microwave drying, far infrared drying, vacuum drying dan spray drying. Setelah itu dilakukan Sortasi kering, merupakan proses sortasi ulang setelah tanaman obat dikeringkan untuk memisahkan bahan dari benda-benda asing dan pengotor tidak diinginkan yang masih tertinggal. Pada tahap ini juga dapat dilakukan grading terhadap bahan yang dihasilkan memiliki ukuran seragam. Kemudian Pengemasan, bertujuan untuk menjamin, meningkatkan perlindungan, menjaga khasiat, keamanan, dan kualitas. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melindungi simplisia saat pengangkutan, distribusi, dan penyimpanan dari gangguan luar seperti suhu, kelembapan, sinar, cemaran mikroba, serta serangan berbagai jenis serangga (Widodo, et al., 2021). 


A.    TEKNOLOGI PENGOLAHAN LENGKUAS (Alpinia galanga)

Lengkuas atau laos dengan nama latin Alpinia galanga, tergolong famili Zingiberaceae merupakan salah satu jenis bumbu masak yang sangat dikenal di Indonesia. Sebagai bumbu masak, lengkuas memberikan citarasa khas pada masakan. Lengkuas juga bermanfaat sebagai bahan baku obat herbal. Ada dua jenis lengkuas, yaitu lengkuas putih dan lengkuas merah. Lengkuas putih umumnya digunakan sebagai bumbu masak sedangkan lengkuas merah selain digunakan sebagai bumbu masak juga digunakan sebagai bahan baku obat herbal (Apriyanti, et al., 2016). Telah diketahui bahwa rimpang lengkuas ini bisa di jadikan sebagai obat diare (anti diare) bahkan sejak zaman nenek moyang obat tradisional ini sudah banyak digunakan oleh masyarakat umum. Karena ekstrak rimpang lengkuas bisa mengobati ataupun memiliki khasiat dalam mengobati diare. Hal ini dikarenakan karena didalam rimpang lengkuas terdapat kandungan yang dapat mengahambat bakteri Escherichia coli, rimpang lengkuas ini berperan sebagai katalis dalam dalam penyembuhan diare pada anak balita. Dimana katalis berperan untuk mempercepat reaksi penyembuhan diare. Selain berfungsi sebagai anti diare, di dalam rimpang lengkuas ini juga terdapat beberapa kandungan di dalamnya antara lain, minyak atsiri 1%, senyawa eugenol, flavanoid dan lain sebaginya. Dari beberepa kandungan senyawa yang terdapat dalam rimpang lengkuas ini juga memiliki manfaatnya masing-masing. Salah satunya adalah menetralkan keracunan makanan, meredakan rasa sakit, melancarkan buang air kecil, disentri, demam dan lain-lain. Selain itu rimpang lengkuas ini juga dapat mengobati diabetes melitus, pada zaman nenek moyang orang menjadikan rimpang lengkuas sebagai obat ani diabetes. Terdapat banyak komponen ataupun kandungan yang dapat dijadikan masyarakat sebagai obat tradisional (Adawiyah, 2019).

Pengolahan rebusan rimpang lengkuas yang berfungsi sebagai obat diare, cara pembuatannya yaitu rebusan rimpang lengkuas dibuat dengan cara merebus rimpang lengkuas dengan air. hal ini dilakukan dengan metode secara langsung yaitu dengan merebus rimpang lengkuas sebanyak 10 gram di dalam 400 mL atau 2 gelas air. Setelah itu dipanaskan sampai mendidih. Mendingankan rebusan rimpang lengkuas salam beberapa menit , setelah rebusan rimpang lengkuas dingin disaring dengan penyaring dan dipindakan kedalam wadah yang lain. Dan dipatkan hasil rebusan rimpang lengkuas untuk diberikan kepada penderita diare (Adawiyah, 2019).

Rimpang lengkuas yang dikeringkan menjadi simplisia yang akan digunakam sebagai bahan dasar jamu, Rimpang lengkuas terlebih dahulu dibersihkan dari tanah, kotoran dan benda asing yang melekat serta disortasi untuk mendapatkan kualitas yang bagus. Pertama-tama rimpang lengkuas ditimbang, dicuci, kemudian ditiriskan. Tahap penirisan dilakukan dengan menempatkan rimpang pada tampah selama semalam pada suhu ruang. Pengecilan ukuran berupa pengirisan rimpang dengan ketebalan 3-4 mm bertujuan untuk mempercepat waktu pengeringan. Dua bentuk irisan yang digunakan sebagai perlakuan yaitu irisan secara melintang dan membujur. Metode pengeringan yang digunakan adalah dengan penjemuran sinar matahari diberi tutup kain hitam (50℃) dan cara pengeringan menggunakan cabinet dryer (50–55℃). Setelah kering dilakukan penggilingan simplisia lengkuas menggunakan mesin penggiling atau hammer mill kemudian diayak menggunakan ayakan 60 mesh (Apriyati, et al., 2016), dengan tujuan bahan dasar kapsul ini dapat dijual.


B.     TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAUN JAMBU BIJI (Psidium  guajava  L)

Daun jambu biji (Psidium guajava L) merupakan tanaman obat atau obat tradisional yang digunakan untuk mengobati diare. Daun jambu biji termasuk mudah didapat karena banyak terdapat di Indonesia, daun jambu biji mengandung beberapa senyawa fitokimia yang dapat dimanfaatkan untuk mencegah penyakit seperti anti diare dan antivirus. Daun jambu biji mengandung tanin, flavonoid, minyak atsiri, dan alkaloid. Untuk kandungan tanin pada daun jambu biji mempunyai sifat pengekelat berefek spasmolitik yang dapat mengerutkan usus sehingga gerak peristaltik berkurang dan mempunyai efek spasmolitik dapat mengkerutkan dinding sel bakteri, membrane sel sehingga mampu mengganggu permeabilitas sel. Tanin memiliki daya antibakteri dengan cara mempresipitasikan protein, karena diduga tanin mempunyai efek sama dengan senyawa fenolat. Tanaman jambu biji terutama bagian daun, memiliki efektifitas yang lebih tinggi dibandingkan dan beberapa tanaman lain digunakan untuk menghentikan diare (Kurnia, et al., 2020).

Pengolahan daun jambu biji sebagai obat herbal untuk mengatasi diare, beberapa cara untuk mengelolah daun jambu biji (Rahayu, et al., 2021) :

1.   Sebanyak  30  gram  daun  jambu  segar  dan  tepung  beras sebanyak  kurang  lebih  10  gram digongsong sampai menguning. Kemudian direbus selama  15  menit dalam  dua  gelas  air  sampai mendidih. Kemudian air saringan siap untuk diminum.

2.   Daun jambu biji, Psidium guajava L sebanyak 30 gram dicuci kemudian ditumbuk hingga halus. Kemudian  tambah kandengan NaCl  (garam  natrium  klorida) sebanyak  5  gram,  dan separuh cangkir  air hangat, kemudian aduklah sampai homogen. Air yang  telah  disaring  bisa  segera diminum.

3.    Sebanyak  6  lembar daun  jambu biji, Psidium  guajava  L muda kemudian dicuci, dan  dilakukan perebusandalam 600 mL air sampai tersisa setengahnya.

Pengolahan daun jambu biji dapat dilakukan dengan beberapa tahap dalam pembuatan minuman fungsional peningkat imun tubuh, Adapun tahapan-tahapannya yaitu Daun jambu biji, jahe dan serai dilakukan proses penyortiran, dipilih yang bermutu baik. Kemudian jahe dikupas. Daun jambu biji, jahe dan serai ditimbang sesuai berat masing-masing perlakuan seperti pada Tabel 1. Menimbang gula merah 100 gr sebanyak 3 kali untuk ditambahkan pada setiap masing-masing perlakuan. Semua bahan yang telah ditimbang dicuci hingga bersih, kecuali gula merah. Jahe dan serai kemudian digeprek. Menyiapkan panci, memasukkan bahan-bahan. kemudian ditambahkan gula merah 100 gr dan air 1 liter pada setiap masing-masing perlakuan. Setelah itu direbus selama 15 menit dan disaring. Minuman daun jambu biji sebagai minuman fungsional siap disajikan atau di kemas (Edrikarina, 2021)

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adawiyah, R. (2019). Uji Efektivitas Katalitik Herbal Rebusan Rimpang Lengkuas Sebagai Bahan Aktif Penghambat Bakteri Escherichia coli Terhadap Penyembuhan Diare Pada Balita. doi:https://doi.org/10.31227/osf.io/y7abv

Apriyati, E., Retno Utami H., Purwaningsih, & Djaafar, T. F. (2016). Kajian Teknologi Pembuatan Bubuk Simplisia Lengkuas. Kementrian Pertanian, 1429-1433. Retrieved from http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6622

Edrikarina, L. (2021). Pemanfaatan Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.), Jahe (Zingiber officinale Rosc.) dan Serai (Cymbopogon Citratus) sebagai Minuman Fungsional Peningkat Imun Tubuh Penangkal Covid-19. Repository Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, 1-8. Retrieved from http://repository.untag-sby.ac.id/id/eprint/11218

Kurnia, K. A., Widyatamaka, S. Q., Masyrofah, D., Prayuda, E. M., & Andriani, N. (2020). Khasiat Daun Jambu Biji Sebagai Antidiare. Health Science Growth Journal, Vol. 5 No. 2, 43-57.

Rahayu, A., Pramushinta, I., & Sari, D. P. (2021). Pembuatan Ramuan Tradisional Untuk Mengatasi Diare Pada Anak Di PAUD KHA. Wachid Hasyim Bangil, Pasuruan. Jurnal Abadimas Adi Buana, Vol. 5 No. 5, 1-4. Retrieved from http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/abadimas

Widodo, H., & Subositi, D. (2021). Penanganan dan Penerapan Teknologi Pascapanen Tanaman Obat. Teknologi Industri Pertanian, Vol. 15 No 1, 253-271.

 

Komentar